blog guru dan pembelajaran

Posts tagged ‘digugu dan ditiru’

PERSIAPAN MENGAJAR

Mengajar adalah melayani. Sebuah pelayanan yang baik tentu saja membutuhkan persiapan yang matang. Apa yang dipersiapkan? Materi dan kegiatan tentu saja menjadi komponen utamanya. Yang lainnya adalah kondisi fisik dan emosi. Dua hal ini sangat penting untuk diperhatikan.

a. Materi
Ada dua sudut pandang terhadap materi pembelajaran. Yang pertama sebagai sebuah tujuan. ini berhubungan dengan penguasaan konten materi. Yang kedua, materi pembelajaran merupakan sarana untuk mengembangkan softskills dan keterampilan belajar (how to learn). Softskills dan keterampilan belajar dikembangkan dalam proses penguasaan materi.
Dua sudut pandang ini akan mempengaruhi pemilihan kegiatan pembelajaran. Belajar bukan sekedar menguasai materi tetapi juga mengembangkan berbagai kemampuan. Kemampuan-kemampuan tersebut, softskills dan keterampilan belajar, merupakan keterampilan dasar yang bersifat umum dan aplikatif.
Beberapa hal yang diperhatikan dalam pemilihan materi:
ä Kesesuaian dengan kebutuhan anak
ä Kesesuaian dengan tahap perkembangan anak
ä Kesesuaian dengan kondisi alam dan sosial
ä Alokasi waktu yang dibutuhkan
ä Urutan pemberian materi
ä Pemilahan antara materi yang sangat penting, penting, dan kurang penting
ä Tema pembelajaran, untuk yang bersifat tematis
Materi utama berdasarkan kurikulum nasional yang berlaku. Materi tersebut bersifat cair, tidak terpaku pada apa yang tercantum dalam kurikulum. Materi dikembangkan secara mendalam dan juga melebar.
Materi bisa dilebarkan secara integral dengan materi yang lain, bisa juga memperkaya anak dengan membuatnya lebih dalam. Tekniknya bisa dengan membuat kegiatan yang melibatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kegiatan yang dimaksud diantaranya aplikasi, analisa, sintesa, dan evaluasi.
Aplikasi dapat diartikan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan dalam keadaan yang berbeda, misalnya menggabungkan dua fakta atau lebih menjadi sebuah hal baru. Contoh kegiatannya antara lain membuat diorama atau surat.
Analisis merupakan kemampuan memisahkan sebuah atau beberapa fakta dari fakta yang lebih besar. Misalnya membuat teka-teki silang dan grafik.
Sintetis adalah kebalikan dari analisis. Dalam sintesis dituntut kemampuan untuk menggabungkan beberapa fakta sehingga menghasilkan hal yang baru. Contohnya membuat desain rumah ramah lingkungan.
Tahap tertinggi, evaluasi, merupakan kemampuan untuk menilai, menimbang, dan memberikan putusan. Misalnya memberikan masukan kepada pemerintah daerah tentang cara mengatasi banjir.
Ketika akan masuk kelas, guru sudah mempunyai materi ajar dan bagaimana cara mengajarkannya. Bahkan jauh sebelumnya, sudah ada rencana penyampaian materi untuk satu tahun ajaran.
Bahan dan sumber belajar juga harus dipastikan siap untuk digunakan. Menjadi sebuah prosedur pribadi untuk memastikan rencana pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

b. Ketahanan Fisik dan Emosi
Kegiatan belajar dengan banyak aktivitas dan semua implikasi yang mengikutinya, membutuhkan stamina tubuh yang prima. Ada tuntutan untuk selalu tampil all out, menampilkan sikap tubuh yang penuh optimisme dan ceria. Rasa lelah dan loyo tidak semestinya ditunjukkan kepada anak, apalagi secara verbal. Jadi, sebelum masuk kelas, pastikan bahwa kondisi tubuh memang layak mengajar.
Bukan hanya tampilan fisik, kondisi psikologis dan emosipun mempengaruhi kinerja. Ketika di kelas, total energi fokus pada anak. Masalah yang ada sedapat mungkin dilupakan terlebih dahulu, apapun masalahnya. Siapkan pula untuk menghadapi semua kondisi yang bisa jadi tidak terduga. Bersifatlah fleksibel.

Lakukan, dan Mereka Akan Mengikuti

Cerita klise guru-guru di republik ini adalah betapa banyak nasihat-nasihat bijak yang mereka telah berikan kepada murid-muridnya. Tapi apa yang terjadi? Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri begitu kita punya ibarat. Ribuan kalimat itu ternyata tidak mempunyai daya yang cukup besar untuk menggerakkan hati. Ini bisa jadi cerita klise ataupun anekdot, mungkin juga drama melankolis, tergantung bagaimana kita memandangnya.

Pasti ada yang salah. Apa? Bukankah nasihat-nasihat itu begitu bagusnya? Bukankah seharusnya guru itu digugu (didengar) dan ditiru? Ini! Digugu dan ditiru. Supaya didengar seorang guru harus berbicara. Kalau memberi nasihat saya rasa guru sudah bicara. Lalu supaya ditiru, guru harus melakukan sesuatu. Artinya, nasihat saja tidak cukup. Anak perlu melihat contoh dari gurunya. Guru jangan hanya jadi tong kosong. Nanti bisa jadi seperti peribahasa, tong kosong nyaring bunyinya. Mau?
OK, mari kita balik cara berpikirnya. Bukan seharusnya guru itu digugu dan ditiru, tapi bagaimana supaya guru bisa digugu dan ditiru. Tentu saja itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Seharusnya digugu dan ditiru berarti menuntut orang lain. Menuntut orang lain (anak) supaya mau mendengarkan apa yang dikatakan guru, kemudian melakukannya. Dalam kasus tertentu hal ini bisa bersifat pemaksaan.
Sedangkan bagaimana supaya bisa digugu dan ditiru mengandung pemahaman bahwa seorang guru harus melakukan usaha agar didengar dan diikuti murid-muridnya. Apa yang dikatakan guru bukan hanya terdengar, tapi juga didengar. Terdengar artinya tidak dikehendaki orang lain mendengarkan atau orang lain sebenarnya tidak mau mendengar. Didengar berarti ada usaha dari orang lain untuk mendengar. Motivasi yang mendengarkan tentu saja karena ingin tahu apa yang terucap.
Lalu bagaimana supaya seorang guru bisa didengar oleh murid-muridnya? Sederhana saja, melakukan apa yang dikatakan. “Datang tepat waktu, ya!” kata guru kepada murid-muridnya. Kalau mau didengar tidak cukup dengan diucapkan berulangkali dan suara yang jelas. Yang perlu dilakukan guru adalh datang tepat waktu, tidak terlambat. “Kita tidak usah malu meminta maaf” kalimat itu hanya terdengar. Buktinya anak-anak susahnya minta ampun kalau harus meminta maaf. Lalu, sudahkah kita sering memberI contoh dengan meminta maaf pada anak-anak?
Intinya, jadilah model. Kalau kita ingin anak-anak menunjukkan rasa tanggung jawab, ya kita tunjukkan bagaimana kita bertanggung jawab. Kalau kita minta anak-anak disiplin, kitalah yang memberi contoh sikap disiplin, kalau ingin anak-anak membuang sampah pada tempatnya, janganlah kita membuang sampah sembarangan. Katakan dan lakukan, jangan katakan dan minta orang lain melakukannya.

 
Cerita klise guru-guru di republik ini adalah betapa banyak nasihat-nasihat bijak yang mereka telah berikan kepada murid-muridnya. Tapi apa yang terjadi? Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri begitu kita punya ibarat. Ribuan kalimat itu ternyata tidak mempunyai daya yang cukup besar untuk menggerakkan hati. Ini bisa jadi cerita klise ataupun anekdot, mungkin juga drama melankolis, tergantung bagaimana kita memandangnya.
Pasti ada yang salah. Apa? Bukankah nasihat-nasihat itu begitu bagusnya? Bukankah seharusnya guru itu digugu (didengar) dan ditiru? Ini! Digugu dan ditiru. Supaya didengar seorang guru harus berbicara. Kalau memberi nasihat saya rasa guru sudah bicara. Lalu supaya ditiru, guru harus melakukan sesuatu. Artinya, nasihat saja tidak cukup. Anak perlu melihat contoh dari gurunya. Guru jangan hanya jadi tong kosong. Nanti bisa jadi seperti peribahasa, tong kosong nyaring bunyinya. Mau?
OK, mari kita balik cara berpikirnya. Bukan seharusnya guru itu digugu dan ditiru, tapi bagaimana supaya guru bisa digugu dan ditiru. Tentu saja itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Seharusnya digugu dan ditiru berarti menuntut orang lain. Menuntut orang lain (anak) supaya mau mendengarkan apa yang dikatakan guru, kemudian melakukannya. Dalam kasus tertentu hal ini bisa bersifat pemaksaan.
Sedangkan bagaimana supaya bisa digugu dan ditiru mengandung pemahaman bahwa seorang guru harus melakukan usaha agar didengar dan diikuti murid-muridnya. Apa yang dikatakan guru bukan hanya terdengar, tapi juga didengar. Terdengar artinya tidak dikehendaki orang lain mendengarkan atau orang lain sebenarnya tidak mau mendengar. Didengar berarti ada usaha dari orang lain untuk mendengar. Motivasi yang mendengarkan tentu saja karena ingin tahu apa yang terucap.
Lalu bagaimana supaya seorang guru bisa didengar oleh murid-muridnya? Sederhana saja, melakukan apa yang dikatakan. “Datang tepat waktu, ya!” kata guru kepada murid-muridnya. Kalau mau didengar tidak cukup dengan diucapkan berulangkali dan suara yang jelas. Yang perlu dilakukan guru adalh datang tepat waktu, tidak terlambat. “Kita tidak usah malu meminta maaf” kalimat itu hanya terdengar. Buktinya anak-anak susahnya minta ampun kalau harus meminta maaf. Lalu, sudahkah kita sering memberI contoh dengan meminta maaf pada anak-anak?
Intinya, jadilah model. Kalau kita ingin anak-anak menunjukkan rasa tanggung jawab, ya kita tunjukkan bagaimana kita bertanggung jawab. Kalau kita minta anak-anak disiplin, kitalah yang memberi contoh sikap disiplin, kalau ingin anak-anak membuang sampah pada tempatnya, janganlah kita membuang sampah sembarangan. Katakan dan lakukan, jangan katakan dan minta orang lain melakukannya.

 

Awan Tag