blog guru dan pembelajaran

Ah, terus terang saya tidak tahu, apakah kita sudah melakukan sesuatu yang benar? Sepuluh tahun menjadi guru, apa yang saya hasilkan? Bagaimana dengan Anda? Apakah seperti saya? Saya berharap jangan.
Sebagai guru saya tentu saja mengajar. Ya, pasti dong. Itu kan tugas saya. Berarti saya sudah melakukan hal yang benar. Ya, memang benar saya mengajar. Saya sangat yakin Anda pun sudah melakukannya. Apakah saya mengajar dengan benar? Wah, saya sendiri tidak berani menjawabnya. Apakah Anda sudah mengajar dengan benar? Semoga saja.
Tetapi ingatlah Saudara-saudara, kita selama ini sering terjebak pada mengajar. Ingatlah Saudara-saudara bahwa kita seharusnya membelajarkan! Maafkan, sebenarnya kalimat-kalimat itu lebih tepat untuk saya sendiri.
Nah, di titik inilah kita mulai bimbang. Sudahkah kita melakukan sesuatu yang benar? Apakah kita mengajar karena tugas? Sebagai sebuah rutinitas? Dirasakan sebagai beban? Apakah karena sudah membuat RPP, menyiapkan lembar kerja, mengobservasi setiap anak selama beraktivitas, membuat aktivitas belajar yang menyenangkan, membuat penilaian, dan menyampaikan laporan berarti sudah melakukan hal yang benar?
Bukankah semua itu tugas mulia seorang guru? Betul, tapi semua hal tadi baru dalam tataran mengajar, belum membelajarkan. Guru akan lebih mulia kalau mampu membelajarkan. Dan ini yang seharusnya dilakukan semua guru. Jadi bolehlah saya bertanya lagi, sudahkah kita melakukan hal yang benar?
Tentu saja ada definisi dan semangat yang berbeda dalam aktivitas mengajar dan membelajarkan. Mengajar itu aktivitas searah. Mengajar berarti memberitahu, mentransfer pengetahuan. Artinya anak pasif. Sehebat dan semenyenangkan apa pun kalau sekedar memberikan apa yang kita ketahui kepada anak, tetap saja disebut mengajar.
Sedangkan membelajarkan mengandung spirit pemberdayaan. Yang dilakukan guru adalah membuat usaha agar anak mampu mengajari dirinya sendiri. Tentu saja ada usaha membangun kesadaran diri. Anak diajak mengenali mengapa dia perlu belajar, bagaimana cara belajarnya, sikap apa yang diperlukan untuk membuat aktivitas belajarnya sukses, dan manajemen diri.
Artinya, perlu waktu beberapa lama sebelum masuk ke materi. Ini hal mendasar yang membedakan pembelajaran dengan pengajaran. Mengajar bisa langsung masuk ke materi tanpa memperhatikan kesiapan anak, sedangkan pembelajaran menuntut anak benar-benar siap dan mampu belajar.
Saya sadar ada kekhawatiran. Waktunya tidak banyak, banyak kegiatan, banyak libur, bagaimana kalau materinya tidak selesai? Kalau masih berpikir tentang semua hal itu, berarti kita belum beranjak dari mengajar. Belajar itu tanggung jawab anak, sedangkan tanggung jawab guru adalah membuat anak mampu belajar.
Soal materi, itu bisa dimodifikasi. Saya yakin Anda bisa menyiasatinya. Kemampuan belajar lebih penting. Semakin dini dikembangkan akan semakin baik. Setelah anak mempunyai keterampilan belajar, segalanya akan terasa lebih ringan. Tidak percaya? Buktikan sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: