blog guru dan pembelajaran

Archive for April, 2011

MENGAJARKAN KREATIVITAS

Pertanyaan yang mendahuluinya adalah perlukah kreativitas diajarkan? Kalau perlu, apakah sekolah yang mengajarkan kreativitas kepada anak-anak? Bila jawaban atas pertanyaan tersebut adalah “Ya”, apakah kreativitas diajarkan sebagai bagian dari materi tiap bidang studi atau sebagai subjek yang terpisah? Bagaimana cara mengajarkannya?
Sebaiknya kita mulai dengan menyamakan pandangan tentang makna kreativitas. Apakah kreativitas hanya identik dengan seni?
Banyak definisi tentang kreativitas. Banyak pula yang berpandangan bahwa kreatifitas adalah kemampuan membuat sesuatu yang hasilnya sangat bagus. Pandangan ini menurut saya tidak sepenuhnya salah. Tapi juga belum sepenuhnya benar. Kreativitas tidak terbatas pada kemampuan memproduk sebuah benda atau barang, tetapi juga pada ide, cara pandang, dan pemecahan masalah. Kreativitas merupakan kemampuan dalam mempersepsi atau melakukan sesuatu dan memecahkan masalah dengan cara baru yang tidak biasa.
Kemajuan dalam berbagai bidang seperti yang terjadi sekarang dipandang sebagian orang membunuh atau menghambat potensi kreatif seseorang. Anak dengan mudah mendapatkan mainan, tidak perlu membuatnya sendiri seperti jaman dulu. Teknologi yang semakin mudah dipakai dan dan multi guna serta mampu mengakses berbagai hal membuat orang malas berpikir.
Benarkah hal tersebut mengakibatkan daya kreatif akan berkurang? Perkembangan teknologi membuat orang lebih mudah dalam menjalankan aktivitasnya, karena banyak peralatan yang bisa membantu. Dengan demikian orangpun punya waktu untuk mengerjakan hal lainnnya atau waktu luang yang lebih banyak. Waktu luang yang ada jika hanya dipakai untuk kegiatan yang bersifat pasif, misalnya habis untuk menikmati hiburan, bisa jadi kemajuan jaman membuat orang tergerus daya kreatifnya.
Dilain pihak, bila teknologi dipakai untuk menjawab tantangan jaman maka sebenarnya tidak ada potensi kreatif yang hilang. Terlebih kreativitas bukan hanya terbatas pada produk berupa barang, tetapi juga ide, gagasan, dan pemikiran. Kalau cara berpikir kita seperti ini, maka semakin maju semakin besar tuntutan untuk mampu berpikir kreatif. Karena pada dasarnya tantangan kehidupan tidak semakin berkurang, tetapi bertambah demikian banyak dan kompleks.
Nah, apa yang bisa kita lakukan? Kebutuhan akan daya kreatif yang demikian besar, mau tidak mau membawa kita kepada pemikiran bahwa kita perlu mempersiapkan generasi yang mampu mengembangkan kreativitasnya. Mengapa demikian? Karena kreativitas merupakan sebuah potensi, tidak akan keluar dan menjadi manifestasi jikalau tidak ada usaha untuk menumbuhkannya. Artinya kreativitas perlu lahan dan suplemen agar tumbuh dan berkembang dengan baik.
Sekolah tentu saja tak lepas daru tanggung jawab menyediakan lahan dan suplemen tersebut. Bahkan posisi sekolah cukup strategis, mengingat sebagian besar waktu anak-anak dilalui di sekolah. Ujung-ujungnya pasti akan sampai di pembelajaran. Masalahnya, bagaimana membuat proses pembelajaran mampu mengasah kreativitas anak?
Ini juga sebagai hal pendorong dari sisi yang berbeda terhadap perlunya perubahan dalam sistem pembelajaran. Sudah waktunya kita tinggalkan pembelajaran yang hanya mengedepankan penguasaan materi. Pembelajaran yang bersifat dogmatis, tertutup. Pembelajaran yang hanya mengenal benar atau salah, tidak menutup kemungkinan baru atau hal yang lain. Praktek belajar yang bersifat pasif, searah.
Yang diperlukan sekarang adalah pembelajaran sejati. Disebut pembelajaran sejati karena sejatinya pembelajaran itu membelajarkan. Membelajarkan berarti menggerakkan potensi belajar. Menggerakkan tentu saja perlu daya, yaitu daya atau potensi berkembang dari anak-anak. Potensi, inilah yang harus kita cari dan gali dari anak-anak. Bukan menjejali mereka dengan ceramah tentang definisi, hukum, teori, rumus dan tetek bengek lainnya.
Potensi akan bangkit kalau menemukan stimulus yang menantang. Buatlah pembelajaran yang menantang, menarik, membuat berbagai kemungkinan, maka kreativitas anak akan menyala-nyala menerangi jalan menuju solusi yang lebih baik. Ada solusi, berarti ada pemecahan masalah. Ya, pembelajaran hendaknya memberikan masalah yang bisa membuat anak terpacu memberikan pemecahannya.
Kunci pembelajaran yang mengasah kreativitas adalah keterbukaan terhadap segala kemungkinan, keterbukaan terhadap hal-hal baru, dan menghargai setiap pemikiran. Paradigmanya adalah tidak ada pemikiran yang aneh atau konyol, semuanya mungkin saja. Dengan demikian, berikanlah masalah yang bersifat terbuka, pertanyaan yang bisa dijawab dengan berbagai kemungkinan. Bukan hanya benar atau salah semata.
Kunci sukses lainnya dalam memacu kreativitas adalah banyak humor. Suasana santai sering menumbuhkan solusi aneh untuk memecahkan suatu problem.

MENGHADAPI ANAK

“Anak-anak, jangan mengobrol lagi dan melakukan yang lain. Kalian sudah tahu kan, pelajaran ini semakin lama semakin sulit. Isinya sangat membingungkan. Untuk bisa menguasainya kalian akan harus bersusah payah. Sekarang, Ibu ingin kalian mengeluarkan PR, lalu kumpulkan.” (setelah melihat PR sebentar).

“Ibu lihat kalian masih belum bisa mengerjakan dengan benar. Sepertinya Ibu harus mengajarkan lagi bagian ini. Hari ini kalian boleh pilih: kita bisa terus bersusah payah mempelajarinya dengan penjelasan dari Ibu, atau kalian memahaminya sendiri dengan membaca buku. Kalian harus ingat, banyak yang tidak berhasil menguasainya karena memang benar-benar sulit.”
Banding dengan yang ini: “Selamat pagi, anak-anak. Silakan duduk dan pusatkan perhatian kalian. Kita akan memasuki bagian yang sangat menantang. Ibu yakin kalian akan mampu menguasainya dengan baik. Anak-anak seperti kalian pasti akan berhasil, terutama yang mau aktif dan bertanya.” (diam sebentar).
“Mari kita mulai dengan tantangan yang kalian selesaikan di rumah.” (setelah melihat PR). “Sepertinya kita perlu mengulang konsep kemarin dengan cepat. Ibu benar apa tidak?”
Semoga Anda melihat perbedaan besar antara kedua contoh di atas. Apa yang Anda ucapkan bisa mendukung tujuan Anda, bisa pula sebaliknya. Maka berhati-hatilah memilih kata dalam berkomunikasi dan munculkan kesan.  Cobalah eksperimen ini: Jangan bayangkan Anda sedang naik roller coaster. Jangan bayangkan Anda berpegangan kuat ketika roller coaster mulai berjalan. Jangan pula membayangkan Anda berteriak ketika roller coaster menukik tajam setelah menyelesaikan tanjakan, dsb.
Apa yang terjadi? Untuk tidak membayangkan roller coaster otak Anda terlebih dahulu membuat pencitraan roller coaster. Anda sudah membayangkannya sebelum tidak membayangkan. Artinya, selama di kelas Anda perlu menjaga agar citra yang timbul adalah positif.
“Anak-anak, bagian bab ini paling sulit dan membosankan, jadi kalian harus waspada kalau tidak mau gagal.” Kesan apa yang diciptakan? Kesulitan, kebosanan, bahaya, kegagalan. Perhatikan perbedaan kesan jika Anda mengatakan,“Bagian ini paling menantang. Simaklah baik-baik, supaya kalian memahaminya.”
Pilihlah secara sadar perkataan yang menimbulkan asosiasi positif, paculah pembelajaran, dan tingkatkanlah komunikasi.

Arahkan Fokus
Diperkirakan bahwa otak kita menerima lebih dari 10.000 pecahan informasi setiap detik kita terjaga. Wah! Bagaimana kita menangani semua masukan itu?
Yuk kita bereksperimen lagi. Perhatikan lay out halaman ini. Perhatikan font, formasi teks, dan bagaimana mata Anda memperhatikan informasi penting. Sekarang perhatikan ruangan tempat Anda berada.  Apa yang terjadi? Saat Anda membaca kata-kata ini, Anda fokus pada lay out, font, dan sebagainya secara sadar. Tetapi begitu perhatian Anda ditarik ke ruangan tempat Anda berada, Anda memusatkan pada barang-barang, cat, hiasan, dan sebagainya. Dalam sekejap segala detail tentang halaman ini menjadi terlupakan.
Arahkan fokus saat memberikan instruksi atau petunjuk. Tanyalah pada diri sendiri, “Di mana saya ingin akan memusatkan perhatian mereka?” Lalu pilih kata-kata yang mengarahkan fokus.
“Jangan mendekati rak sepatu saat kalian berpindah tempat,” justru akan menarik perhatian ke rak sepatu. Alih-alih, arahkan fokus dengan:
“Cari tempat berkumpul kelompok kalian. Pindahlah langsung ke tempat itu, dan bawa buku kalian.”
Anda mengurangi kemungkinan anak tertarik pada hal lain, disamping mengarahkan fokus secara jelas. Kata-kata Anda, sengaja atau tidak, membuka asosiasi. Pilihlah asosiasi yang paling mendukung belajar.
“Bapak ingin kalian mengeluarkan buku kalian.” “Yang harus kalian lakukan adalah mengeluarkan tugas yang kemarin.” “Ibu minta kalian mengeluarkan bahan-bahan untuk eksperimen ini.” Kalimat-kalimat serupa ini ratusan kali terdengar di kelas. Pernyataan itu dengan jelas menyampaikan perilaku yang diharapkan guru, tetapi apa lagi yang tersampaikan?
Kalau kata-kata menimbulkan asosiasi, asosiasi apa yang ditimbulkan? “Bapak ingin,” “Kalian harus,” dan “Ibu minta,” adalah dinamika saya- lawan- kalian. “Saya yang pegang kendali dan kalian harus melakukan apa yang saya perintahkan.”
Nah, bagaimana sikap anak menanggapi hal ini? Mungkinkah akan memberontak atau membangkang? Asosiasi ini, pada tingkat tidak sadar, mempunyai efek mendalam dalam belajar dan perilaku.
Perubahan sederhana dalam kata-kata dapat meningkatkan hubungan kerjasama menyeluruh. “Mari kita keluarkan buku.” “ Sudah waktunya mengeluarkan bahan-bahan kita,” terasa lebih enak bukan?
Gunakanlah bahasa yang mengajak semua orang. “Mari kita,” dan “Kita’” menciptakan kesan keterpaduan dan kesatuan. Boleh dibilanmg, perkataan seperti ini berarti, “Kita berjuang bersama-sama.” Ingat:semuanya berbicara, selalu!

Spesifik
Anda ingin anak-anak bersiap untuk istirahat. Kemudian Anda berkata, “Anak-anak, bersiaplah untuk istirahat.” Apa yang mungkin terjadi? Anak-anak langsung bubar dengan inisiatif sendiri. Yah, memang mereka bersiap untuk istirahat, tetapi tidak seperti yang Anda maksudkan. Mereka salah mengartikan petunjuk karena Anda tidak spesifik.
Seringnya salah komunikasi terjadi akibat generalisasi. Seolah-olah orang lain langsung tahu apa yang kita maksud. Semakin spesifik permintaan, semakin besar orang akan melakukan sesuai dengan yang diinginkan.
Kadang-kadang Anda merasa perlu berkata lebih banyak agar komunikasi menjadi jelas. “Selanjutnya Bapak ingin kalian mengeluarkan buku dan mencari tabel pada halaman 45,” cukup dinyatakan dengan, “Kita akan memperhatikan tabel di halaman 45. Keluarkan buku kalian.”
Berbicara terlalu banyak, menjelaskan konsep secara berlebihan, mengulang petunjuk, dan memperpanjang jawaban bisa memperlemah dampak dari apa yang dikatakan. Tapi kenapa sering dilakukan? Biasanya karena bingung harus mengatakan apa.
Tentu saja ada cara menghindari jebakan ini. Awalilah dengan kata kerja: Ambillah, tulislah,katakan, dan sebagainya. Bukan hanya langsung tepat sasaran, tetapi anda juga akan mampu menggerakkan anak. Anda juga dapat menguatkannya dengan menggunakan aba-aba. “Kalau Ibu bilang ‘mulai’, pindahlah ke kelompok kalian, lalu duduklah. Mulai!”
Susun pikiran Anda sejenak sebelum berbicara. Mungkin rasanya lama sekali Anda berdiri di depan kelas, padahal bagi anak hanya sebentar saja. Santai saja. Katakan apa yang perlu dikatakan.

MENENTUKAN TUJUAN

Tiap hari selalu saja begini. Sepatu dan sandal berserak tak rapi. Ada yang masih sepasang, ada pula yang tinggal sendirian. Padahal kan rak sudah disediakan?
Ini bukan sekedar mereka, yang sepatunya berserakan itu, adalah anak-anak. Ini merupakan cermin dari budaya. Budaya tak peduli, budaya sak enak udhele dhewe. Kalau aku mau begini, emang kamu mau apa?!
Dalam skala lebih makro, budaya berserakan ini dapat kita jumpai dimana-mana. Semua serba bergerak tak teratur.Lihat saja di jalan raya. Ketidakteraturan sudah menjadi sesuatu yang teratur. Mengapa? Karena semua sistem di jalan raya, baik pengguna, aparat, dan perangkat, berjalan sesuai dengan keinginan sendiri. Berjalan mengikuti ego. Berjalan menatap lurus ke depan, tak peduli samping kini-kanan.
Lah, kalo sudah begitu yang terjadi tentu saja pelanggaran. Si pelanggar bisa saja kepergok sama penegak hukum. Hebatnya, entah si pelanggar yang cari teman agar tak atau penegak hukum yang begitu baik sehingga mau bersama-sama menjadi pelanggar. Benang kusut ini terus saja bergulir, menjadi bola yang semakin lama kian membesar dan terlalu capek untuk diurai. Dan ini kemudian menjadi sistem baru yang struktural. Pelanggaran menjadi biasa, bahkan legal. Nah, kalau sudah begini ketidakteraturan menjadi sesuatu yang teratur bukan?
Udah, ah. Terlalu panjang banget kalu dibahas terus. Kembali ke sepatu yang berserakan. Itu, tuh di SIGM. Ga adil banget deh kalo semata menyalahkan anak. Bukankah mereka itu peniru yang ulung? Mereka melakukan sesuatu seperti apa yang mereka lihat. Siapa yang mereka lihat, tiru? Ya, kita-kita ini. Orang dewasa disekitar mereka.
Memang kita ini sangat hebat. Kita begitu menghargai waktu. Waktu adalah uang. Bahkan waktu adalah pedang! Ya, sehingga waktu sedetik pun begitu berharga. Bisa-bisa uang melayang, atau pedang akan mengakhiri hidup jika waktu terbuang. Jadi, buat apa cape-cape merapikan sepatu? Buang waktu saja, tidak efektif! Tidak bernilai ekonomis!
Tapi, bener gitu kita begitu menghargai waktu? Bukankah kita begitu fleksibel, sehingga soal waktupun bisa begitu elastis. Jam karet sudah jadi budaya. Institusi mana yang begitu peduli soal tepat waktu? Memang ada, tapi berapa banyak?
Lihat saat kinerja bangsa ini. Mana yang menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Memang semua menghabiskan waktu. Produktifkah? Jangan tanya dulu produktif apa ga. Waktu dilalui supaya jam kerja cepat habis, terus pulang. Begitu tiap hari, tiap bulan. Lalu gajian, begitu lagi sampai gajian berikutnya. Mau gapleh, ngobrol, main catur, ato makan siangnya di sebuah kafe di suatu mall, dengan belanja tentu saja, ngga pa-pa. Yang penting gaji tetap dibayar. Betul?
Nah, kalo gitu apakah namanya ini bukan musang berbulu domba, atau kita memang bermuka dua? Terlalu munafik kalo merapikan sepatu kita hubungkan dengan menghemat waktu. Berapa lama sih menyusun sepatu supaya rapi?
Dari sisi lain, kita ini sudah begitu terbiasa menghargai sesuatu yang berada di atas, kita begitu hormat. Sebaliknya, yang dibawah kita hampir, bahkan tidak peduli. Nah sepatu kan tempatnya dibawah. Yang namanya di bawah di negeri ini ga pernah dapat tempat. Selalu dipinggirkan dan terusir. Diinjak-injak dan ga perlu banget untuk dipedulikan. Lebih menyedihkan lagi selalu dianggap pengganggu keindahan.
Begitu juga sepatu-sepatu malang. Mereka ga dipedulikan. Dibiarkan berserakan. Dinjak-injak orang lain, selalu digusur, bahkan saling terpisah. Berserakan, kotor karena terinjak, sepatupun dianggap perusak keindahan. Betapa tak adilnya kita ini.
Jadi menurut saya sepatu yang berserakan itu bukan hal yang sepele. Ada pembelajaran yang begitu hebat. Yuk, kita bayangkan memperbaiki negeri ini dengan langkah awal memperlakukan sepatu secara lebih smooth dan smart. Bukan hanya masalah kerapihan dan keindahan. Ini bisa menjadi terapi bagi kita untuk peduli pada hal-hal kecil, masalah kecil, orang-orang kecil. Kita bisa belajar menghargai orang lain, membiasakan diri menjadi teratur. Menghilangkan budaya saling menggusur dan tak peduli.
Kembali ke sepatu yang berserakan di SIGM. Sebagai model yang selalu ditiru, kitalah yang mempelopori untuk menyusun sepatu. Disiplin tentu saja kunci suksesnya. Jangan berharap ada perbaikan kalo kita sendiri tidak berusaha untuk berubah. Jangan malah kita ikutan-ikutan naruh sepatu dimana saja, dengan alasan ya udah begitu, mau apalagi? Kalau memang seperti itu, benar sekali mau apalagi? Jangan pernah bermimpi memperbaiki negeri ini.

SEBAGAI ORANGTUA

Sebagai orangtua, pernahkah merasa marah, jengkel dan frustasi saat mengasuh anak Anda? Kalau mau jujur, kita sebagai orangtua pasti menjawab PERNAH :)Kebanyakan setelah marah, kita sadar bahwa hal itu tidak baik dan kadang kita menyesalinya. Apa solusinya?

Nah ini ada artikel baru tentang hal ini yang berjudul “Emosi Negatif yang Kerap Muncul dalam Menghadapi Masa Sulit Pengasuhan”

Situasi/masa sulit dalam mengasuh anak merupakan sebuah fakta yang memang biasa terjadi dalam pengasuhan anak. Fakta ini bisa direaksi berbeda oleh orangtua yang berbeda.

Kebanyakan reaksi dari kita ketika menghadapi masa sulit pengasuhan adalah sama yaitu marah, jengkel, dan frustasi. Tapi ada juga sebagian orangtua lainnya bisa menghadapinya dengan tenang, kepala dingin dan sabar.

Apa perbedaan dari kedua orang ini ?

Perbedaannya adalah pada kesadaran akan pilihan untuk bereaksi. Reaksi yang kita pilih merupakan hasil dari program bawah sadar yang sudah terbentuk karena pengalaman masa lalu kita maupun dari pola asuh dari orangtua kita.

Jika pengalaman masa lalu dan pola asuh itu positif maka kita bisa menghadapi masa sulit dengan mudah tapi jika
pengalaman masa lalu dan pola asuh itu penuh traumatis maka masa sulit akan direaksi dengan keras juga.

Jadi kuncinya adalah menetralisir akar masalah pembentuk program pikiran kita. Kita boleh saja memiliki beragam strategi pengasuhan dan beribu teknik menghadapi anak tapi jika program pikiran kita salah tetap saja reaksi yang kita tampilkan juga akan kurang tepat.

Apapun situasinya, jika kita telah membereskan hambatan mental dan memprogram pikiran dengan positif maka kita akan menghadapi masa sulit itu dengan mudah. (sumber:SEKOLAH ORANGTUA)

Lakukan, dan Mereka Akan Mengikuti

Cerita klise guru-guru di republik ini adalah betapa banyak nasihat-nasihat bijak yang mereka telah berikan kepada murid-muridnya. Tapi apa yang terjadi? Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri begitu kita punya ibarat. Ribuan kalimat itu ternyata tidak mempunyai daya yang cukup besar untuk menggerakkan hati. Ini bisa jadi cerita klise ataupun anekdot, mungkin juga drama melankolis, tergantung bagaimana kita memandangnya.

Pasti ada yang salah. Apa? Bukankah nasihat-nasihat itu begitu bagusnya? Bukankah seharusnya guru itu digugu (didengar) dan ditiru? Ini! Digugu dan ditiru. Supaya didengar seorang guru harus berbicara. Kalau memberi nasihat saya rasa guru sudah bicara. Lalu supaya ditiru, guru harus melakukan sesuatu. Artinya, nasihat saja tidak cukup. Anak perlu melihat contoh dari gurunya. Guru jangan hanya jadi tong kosong. Nanti bisa jadi seperti peribahasa, tong kosong nyaring bunyinya. Mau?
OK, mari kita balik cara berpikirnya. Bukan seharusnya guru itu digugu dan ditiru, tapi bagaimana supaya guru bisa digugu dan ditiru. Tentu saja itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Seharusnya digugu dan ditiru berarti menuntut orang lain. Menuntut orang lain (anak) supaya mau mendengarkan apa yang dikatakan guru, kemudian melakukannya. Dalam kasus tertentu hal ini bisa bersifat pemaksaan.
Sedangkan bagaimana supaya bisa digugu dan ditiru mengandung pemahaman bahwa seorang guru harus melakukan usaha agar didengar dan diikuti murid-muridnya. Apa yang dikatakan guru bukan hanya terdengar, tapi juga didengar. Terdengar artinya tidak dikehendaki orang lain mendengarkan atau orang lain sebenarnya tidak mau mendengar. Didengar berarti ada usaha dari orang lain untuk mendengar. Motivasi yang mendengarkan tentu saja karena ingin tahu apa yang terucap.
Lalu bagaimana supaya seorang guru bisa didengar oleh murid-muridnya? Sederhana saja, melakukan apa yang dikatakan. “Datang tepat waktu, ya!” kata guru kepada murid-muridnya. Kalau mau didengar tidak cukup dengan diucapkan berulangkali dan suara yang jelas. Yang perlu dilakukan guru adalh datang tepat waktu, tidak terlambat. “Kita tidak usah malu meminta maaf” kalimat itu hanya terdengar. Buktinya anak-anak susahnya minta ampun kalau harus meminta maaf. Lalu, sudahkah kita sering memberI contoh dengan meminta maaf pada anak-anak?
Intinya, jadilah model. Kalau kita ingin anak-anak menunjukkan rasa tanggung jawab, ya kita tunjukkan bagaimana kita bertanggung jawab. Kalau kita minta anak-anak disiplin, kitalah yang memberi contoh sikap disiplin, kalau ingin anak-anak membuang sampah pada tempatnya, janganlah kita membuang sampah sembarangan. Katakan dan lakukan, jangan katakan dan minta orang lain melakukannya.

 
Cerita klise guru-guru di republik ini adalah betapa banyak nasihat-nasihat bijak yang mereka telah berikan kepada murid-muridnya. Tapi apa yang terjadi? Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri begitu kita punya ibarat. Ribuan kalimat itu ternyata tidak mempunyai daya yang cukup besar untuk menggerakkan hati. Ini bisa jadi cerita klise ataupun anekdot, mungkin juga drama melankolis, tergantung bagaimana kita memandangnya.
Pasti ada yang salah. Apa? Bukankah nasihat-nasihat itu begitu bagusnya? Bukankah seharusnya guru itu digugu (didengar) dan ditiru? Ini! Digugu dan ditiru. Supaya didengar seorang guru harus berbicara. Kalau memberi nasihat saya rasa guru sudah bicara. Lalu supaya ditiru, guru harus melakukan sesuatu. Artinya, nasihat saja tidak cukup. Anak perlu melihat contoh dari gurunya. Guru jangan hanya jadi tong kosong. Nanti bisa jadi seperti peribahasa, tong kosong nyaring bunyinya. Mau?
OK, mari kita balik cara berpikirnya. Bukan seharusnya guru itu digugu dan ditiru, tapi bagaimana supaya guru bisa digugu dan ditiru. Tentu saja itu merupakan dua hal yang sangat berbeda. Seharusnya digugu dan ditiru berarti menuntut orang lain. Menuntut orang lain (anak) supaya mau mendengarkan apa yang dikatakan guru, kemudian melakukannya. Dalam kasus tertentu hal ini bisa bersifat pemaksaan.
Sedangkan bagaimana supaya bisa digugu dan ditiru mengandung pemahaman bahwa seorang guru harus melakukan usaha agar didengar dan diikuti murid-muridnya. Apa yang dikatakan guru bukan hanya terdengar, tapi juga didengar. Terdengar artinya tidak dikehendaki orang lain mendengarkan atau orang lain sebenarnya tidak mau mendengar. Didengar berarti ada usaha dari orang lain untuk mendengar. Motivasi yang mendengarkan tentu saja karena ingin tahu apa yang terucap.
Lalu bagaimana supaya seorang guru bisa didengar oleh murid-muridnya? Sederhana saja, melakukan apa yang dikatakan. “Datang tepat waktu, ya!” kata guru kepada murid-muridnya. Kalau mau didengar tidak cukup dengan diucapkan berulangkali dan suara yang jelas. Yang perlu dilakukan guru adalh datang tepat waktu, tidak terlambat. “Kita tidak usah malu meminta maaf” kalimat itu hanya terdengar. Buktinya anak-anak susahnya minta ampun kalau harus meminta maaf. Lalu, sudahkah kita sering memberI contoh dengan meminta maaf pada anak-anak?
Intinya, jadilah model. Kalau kita ingin anak-anak menunjukkan rasa tanggung jawab, ya kita tunjukkan bagaimana kita bertanggung jawab. Kalau kita minta anak-anak disiplin, kitalah yang memberi contoh sikap disiplin, kalau ingin anak-anak membuang sampah pada tempatnya, janganlah kita membuang sampah sembarangan. Katakan dan lakukan, jangan katakan dan minta orang lain melakukannya.

 

Sudahkah Kita Melakukan yang Benar?

Ah, terus terang saya tidak tahu, apakah kita sudah melakukan sesuatu yang benar? Sepuluh tahun menjadi guru, apa yang saya hasilkan? Bagaimana dengan Anda? Apakah seperti saya? Saya berharap jangan.
Sebagai guru saya tentu saja mengajar. Ya, pasti dong. Itu kan tugas saya. Berarti saya sudah melakukan hal yang benar. Ya, memang benar saya mengajar. Saya sangat yakin Anda pun sudah melakukannya. Apakah saya mengajar dengan benar? Wah, saya sendiri tidak berani menjawabnya. Apakah Anda sudah mengajar dengan benar? Semoga saja.
Tetapi ingatlah Saudara-saudara, kita selama ini sering terjebak pada mengajar. Ingatlah Saudara-saudara bahwa kita seharusnya membelajarkan! Maafkan, sebenarnya kalimat-kalimat itu lebih tepat untuk saya sendiri.
Nah, di titik inilah kita mulai bimbang. Sudahkah kita melakukan sesuatu yang benar? Apakah kita mengajar karena tugas? Sebagai sebuah rutinitas? Dirasakan sebagai beban? Apakah karena sudah membuat RPP, menyiapkan lembar kerja, mengobservasi setiap anak selama beraktivitas, membuat aktivitas belajar yang menyenangkan, membuat penilaian, dan menyampaikan laporan berarti sudah melakukan hal yang benar?
Bukankah semua itu tugas mulia seorang guru? Betul, tapi semua hal tadi baru dalam tataran mengajar, belum membelajarkan. Guru akan lebih mulia kalau mampu membelajarkan. Dan ini yang seharusnya dilakukan semua guru. Jadi bolehlah saya bertanya lagi, sudahkah kita melakukan hal yang benar?
Tentu saja ada definisi dan semangat yang berbeda dalam aktivitas mengajar dan membelajarkan. Mengajar itu aktivitas searah. Mengajar berarti memberitahu, mentransfer pengetahuan. Artinya anak pasif. Sehebat dan semenyenangkan apa pun kalau sekedar memberikan apa yang kita ketahui kepada anak, tetap saja disebut mengajar.
Sedangkan membelajarkan mengandung spirit pemberdayaan. Yang dilakukan guru adalah membuat usaha agar anak mampu mengajari dirinya sendiri. Tentu saja ada usaha membangun kesadaran diri. Anak diajak mengenali mengapa dia perlu belajar, bagaimana cara belajarnya, sikap apa yang diperlukan untuk membuat aktivitas belajarnya sukses, dan manajemen diri.
Artinya, perlu waktu beberapa lama sebelum masuk ke materi. Ini hal mendasar yang membedakan pembelajaran dengan pengajaran. Mengajar bisa langsung masuk ke materi tanpa memperhatikan kesiapan anak, sedangkan pembelajaran menuntut anak benar-benar siap dan mampu belajar.
Saya sadar ada kekhawatiran. Waktunya tidak banyak, banyak kegiatan, banyak libur, bagaimana kalau materinya tidak selesai? Kalau masih berpikir tentang semua hal itu, berarti kita belum beranjak dari mengajar. Belajar itu tanggung jawab anak, sedangkan tanggung jawab guru adalah membuat anak mampu belajar.
Soal materi, itu bisa dimodifikasi. Saya yakin Anda bisa menyiasatinya. Kemampuan belajar lebih penting. Semakin dini dikembangkan akan semakin baik. Setelah anak mempunyai keterampilan belajar, segalanya akan terasa lebih ringan. Tidak percaya? Buktikan sendiri

Awan Tag