blog guru dan pembelajaran

Archive for Maret, 2011

HAK MENGAJAR

Guru bukanlah penguasa di kelas. Tapi betapa banyak guru yang menempatkan diri sebagai penguasa kelas. Kita lihat, banyak sekali kata-kata yang bersifat instruksional dan dogmatis beterbangan di ruang-ruang kelas. Perhatikan lagi bagaimana bahasa tubuh guru yang memberi tekanan bahwa ia harus diikuti. Guru pun duduk manis di singgasananya.
Suasana demikian menjadikan belajar adalah proses searah, dari guru ke murid, sehingga pembelajaran pun berpusat pada guru. Selanjutnya, anak hanya bersifat pasif. Menerima dan menunggu. Tidak ada kegairahan, karena belajar bersifat terpaksa, bukan berangkat dari kebutuhan dan kesadaran. Padahal belajar bukan hanya aktifitas fisik, tetapi juga aktifitas mental. Belajar adalah kegiatan full contact. Emosi dan perasaan tidak bisa dilepaskan dari proses belajar.
Pemahaman demikian akhirnya membawa kesadaran bahwa dengan berbekal surat tugas atau surat keputusan, seorang guru tidak serta merta mempunyai hak untuk mengajar. Surat tugas maupun surat keputusan merupakan wewenang, bukan hak untuk mengajar. Mengapa demikian?
Anaklah yang memberi hak untuk mengajar, sebab anak adalah subjek pembelajaran. Aktifitas belajar dibangun berdasarkan minat dan kebutuhan anak. Dengan demikian anaklah yang memikul tanggung jawab untuk belajar, bukan guru. Ini berarti anak jugalah yang menentukan bagaimana cara belajar dan siapa yang membantunya belajar.
Paradigma seperti ini membangun kesetaraan antara guru dan murid dalam proses pembelajaran, yang pada akhirnya membuat anak bersemangat dan berkembang harga dirinya. Dengan demikian cara berpikir yang dipakai adalah berusaha mendapatkan ijin dari anak untuk mengajar. Ini tentu saja jangan dibayangkan ada suratnya seperti halnya surat tugas atau surat keputusan.
Ijin mengajar dari anak berarti bahwa seorang guru diterima untuk mengarahkan mereka menuju penguasaan kompetensi. Penerimaan anak terlihat dari tingkat dan kualitas keikutsertaan anak dalam proses pembelajaran.
Lalu bagaimana untuk mendapatkan ijin mengajar? Pertama, binalah jalinan yang erat dengan anak-anak. Kedekatan dengan anak memudahkan seorang guru untuk memasuki dunia mereka, serta mengajak mereka bertualang dalam dunia yang ada disekitarnya, yang pada hakekatnya adalah sumber belajar yang sangat kaya.
Kedekatan juga bisa mengurangi ketegangan anak, sehingga ia bisa merasa lebih aman dan nyaman. Banyak hasil penilitian yang menyebutkan suasana aman dan nyaman sangat berpengaruh terhadap hasil belajar secara keseluruhan. Dalam suasana yang demikianlah, tekanan bisa berkurang dan sel-sel saraf otak membuka diri sehingga mudah mengakses informasi-informasi yang bertebaran.
Yang kedua, seorang guru harus mampu ‘membaca’ murid-muridnya. Guru mutlak mengetahui apa yang dirasakan, dipikirkan, atau diinginkan anak. Disini dituntut kemampuan observasi dan kejelian dalam melihat perubahan yang dialami anak. Roman muka, posisi badan, gambar atau tulisan anak mencerminkan apa yang dirasakan, dipikirkan, dan diinginkan anak.
Setelah mengetahui isi dalam benak anak, guru membuat stimulus agar anak bisa mengekspresikannya secara sehat dan positif. Misalnya ada anak yang terlihat murung, bukan dibiarkan saja, tetapi didekati, dibuat nyaman sampai akhirnya bisa mengungkapkan apa yang dirasakan.
Ketiga, bersikaplah tulus. Mengajar adalah melayani. Melayani anak dalam perjalanan menuju kedewasaan berpikir dan bertindak. Ketulusan dalam mengajar akan mewarnai tindakan dan sikap kita. Masalah yang muncul dalam proses pembelajaran tidak disikapi dengan mengeluh dan rasa jengkel atau marah.
Guru hendaknya menyikapi dengan baik setiap pertanyaan dan keinginan anak, memberikan umpan balik yang memberdayakan, serta tidak berpandangan bahwa pembelajaran hanya berlangsung di kelas saja. Waktu kapanpun dengan anak adalah pembelajaran.

 

 

MENUJU GURU EFEKTIF

Sebagai seorang guru, apakah Anda memerintah, mengatur, dan memimpin anak-anak, murid-murid Anda? Kalau memerintah, artinya Anda adalah penguasa, orang yang menguasai mereka. Kalau Anda mengatur berarti kesempatan anak-anak menjadi manajer bagi dirinya sendiri berkurang. Kalau Anda memimpin, kapan anak menjadi leader?
Penjungkirbalikan perlu dilakukan. Bukan untuk membuat pusing, tapi untuk mendapatkan sudut pandang baru. Langkah-langkah yang kita tempuh tidak selalu menguatkan. Lebih sering membuat kita jengah, lengah. Saat itulah kita butuh penyegaran.
Memandang dari sisi yang berbeda menghasilkan keterkejutan karena hasil bidiknya yang tidak biasa. Kalau biasa memerintah, cobalah mengajak murid-murid Anda. Maka Anda akan dikejutkan betapa lebih antusiasnya mereka. Kenapa? Karena mereka, murid-murid Anda merasakan ada medan keakraban yang anda pancarkan. Medan keakraban ini membuat mereka nyaman.
Bagaimana kalau biasa mengatur? Cobalah bebaskan mereka, berilah kepercayaan. Buka pintu kesempatan selebar-lebarnya bagi alternatif kegiatan dan cara bekerja. Kejutan apa yang akan Anda dapat? Anda akan melihat betapa kreatifnya murid-murid Anda. Anda mungkin tidak menyangka betapa kaya mereka dengan ide-ide yang selama ini terkekang karena banyaknya aturan. Selanjutnya Anda akan menjadi saksi tumbuhnya rasa percaya diri dan sikap positif. Buah kepercayaan yang Anda berikan adalah berkembangnya diri dan kemampuan mereka.
Selanjutnya, kalau tidak memimpin anak-anak, apa yang harus dilakukan? Anda tidak harus selalu di depan. Berilah kesempatan lebih banyak kepada anak-anak untuk memimpin. Lebih baik Anda sering-sering berada di tengah dan di belakang. Ketika di tengah, saat itulah Anda menjadi seorang motivator yang menyulut api semangat sehingga berkobar menyala-nyala. Waktu berada di belakang, Anda mempunyai ruang pandang yang lebih luas. Anda bisa memonitor aktivitas dengan lebih baik. Saatnya Anda menjadi pengamat yang mampu memberi masukan positif dan konstruktif.
Sebagai guru, Anda mempunyai peran mengembangkan keahlian, bukan mematikan potensi. Menjadi dominan di kelas bukanlah sebuah cara tepat untuk memainkan peran tersebut. Sudah saatnya guru melihat lagi posisinya.
Dalam tataran aktivitas mengajar, banyaklah bergerak. Berdirilah dalam posisi yang menyatakan Anda adalah pribadi yang percaya diri. Melangkahlah untuk menarik perhatian. Gerakkan tangan untuk membangkitkan motivasi. Pilih kata-kata pembakar energi potensial mereka.
Lalu bawakan materi pelajaran dengan mengedepankan kemampuan berpikir. Jangan langsung membebani anak dengan hafalan. Beri mereka kesempatan mengembangkan kemampuan bernalar dan memecahkan masalah. Ajarkan anak mendekatkan materi yang dipelajari dengan pengalaman diri dan kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik, dan aspek kehidupan lainnya yang ada di sekelilingnya.
Kunci sukses lain untuk menjadi guru yang efektif adalah memberi kesempatan yang lebih banyak kepada anak. Tidak perlu langsung mengambil alih kalau anak melakukan kesalahan. Tidak juga langsung menunjukkan yang benar. Biarkan anak mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan supaya tidak menemukan kegagalan. Ketika Thomas Alva Edison berulangkali ‘gagal’ dalam percobaannya, ia tidak menyebutkan gagal. Thomas Alva Edison mengatakan telah menemukan banyak cara agar tidak gagal membuat lampu, dan hanya satu cara agar berhasil.
Kalau Anda belum biasa melakukannya, mulailah dari sekarang. Sekarang juga, jangan ditunda.

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Awan Tag