blog guru dan pembelajaran

Komunikasi merupakan komponen pokok dalam pembelajaran. Coba bayangkan sebuah kelas tanpa ada komunikasi dalam bentuk apapun. Tidak akan pernah ada kelas tanpa komunikasi.

Komunikasi sebagai sebuah media pembelajaran bisa jadi bumerang yang akan membuat aktifitas belajar kehilangan maknanya. Hal ini terjadi jika komunikasi yang dipakai mengandung limbah-limbah beracun dan berbahaya. Bagaimana sebuah komunikasi bisa beracun?

Tanpa disadari sering kali cara berkomunikasi guru kontra- produktif dengan hasil yang ingin dicapai. Misalnya, “Jangan ngobrol saja. Kalian sudah tahu sendiri kalau materi yang sedang kita pelajari ini sangat rumit. Kalau kalian tidak memperhatikan pasti akan kebingungan. Jadi walaupun mungkin terasa susah dan membosankan, kalian tetap perhatikan, ya.”
Apa yang anak bayangkan dari perkataan guru di atas?
Anak langsung merasakan adanya larangan. Dia merasa dalam posisi yang tidak enak, sehingga rasa nyamannya berkurang atau bahkan hilang. Ditambah lagi ada pernyataan bahwa materinya susah dipelajari. Diperparah oleh bayangan bahwa proses belajarnya akan membosankan.
Coba bandingkan dengan yang ini, “Anak-anak, silakan kalian duduk dengan tertib di tempatnya masing-masing. Sebentar lagi kita akan mempelajari materi yang sangat menantang. Bapak tahu kalian suka tantangan, dan Bapak juga yakin kalian akan mampu menyelesaikan tantangan ini dengan baik. Baik, sebelum kita mulai petualangan, kita berdoa dulu.”
Gaya komunikasi yang kedua bersifat positif. Ini adalah pilar pertama, yaitu memunculkan kesan positif. Mari kita cobalah eksperimen ini: Jangan bayangkan Anda sedang naik roller coaster. Jangan bayangkan Anda berpegangan kuat ketika roller coaster mulai berjalan. Jangan pula membayangkan Anda berteriak ketika roller coaster menukik tajam setelah menyelesaikan tanjakan, dsb.
Apa yang terjadi? Untuk tidak membayangkan roller coaster otak kita terlebih dahulu membuat pencitraan roller coaster. Kita sudah membayangkannya sebelum tidak membayangkan. Artinya, selama di kelas guru perlu menjaga agar citra yang timbul adalah positif. Bagaimana caranya? Don’t say “Don’t”, hindari kata ‘jangan’. Pakailah kalimat positif. Setelah itu kita beri persepsi bahwa materinya bisa dikuasai, proses belajarnya menyenangkan, dan yang paling penting bahwa setiap orang adalah hebat.
Pilar kedua dari komunikasi yang menggerakkan adalah mengarahkan fokus. Mari kita berekperimen lagi. Lihat telapak tangan Anda. Perhatikan detail-detailnya. Setelah itu, perhatikan sekeliling Anda. Apa yang terjadi pada Anda?
Ketika melihat telapak tangan, kita fokus pada garis-garis, warna, pola sidik jari, dan sebagai. Begitu perhatian kita alihkan ke sekeliling, dalam sekejap detail tentang telapak tangan itu hilang.
Sekali lagi, hindari kata ‘jangan’. “Ketika melewati aula jangan memainkan alat musik yang ada disana”, pernyataan seperti ini justru akan menimbulkan dorongan untuk melakukannya. Akan lebih baik jika, ” Cari tempat berkumpul kelompok kalian. Pindahlah langsung ke tempat itu, dan bawa buku kalian.”
Yang ketiga adalah bersifat mengajak. “Ibu ingin…”, “Bapak minta…”, “Kalian harus…” menimbulkan kesan aku – kamu, bukan kita. Ini mengakibatkan anak merasa tidak terlibat karena tidak pernah diajak, melainkan hanya disuruh dan melakukan saja. Komunikasi seperti itu juga apa yang akan dikerjakan bersifat sepihak.
Berbeda kalau misalnya bentuk komunikasinya adalah, “Mari kita…”, atau “Ayo…” secara implisit sudah menyatakan keterbukaan, disamping melibatkan anak secara langsung.
Terakhir, komunikasi bisa menggerakkan kalau bersifat spesifik. Artinya jelas dan terpahami. Seringkali kita menggeneralisasi, seolah-olah orang lain paham dengan apa yang kita inginkan. Sehingga apa yang kita komunikasikan tidak lengkap.
Komunikasi yang lengkap tidak berarti bahwa kita perlu menambah kata-kata dalam pernyataan kita. Kata-kata yang terlalu banyak bahkan bisa mengaburkan inti yang kita maksud.
Akan terasa efektif kalau kita mengawalinya dengan kata kerja. Supaya lebih punya daya gerak, kita bisa menambahkan aba-aba. Misalnya, “Setelah hitungan ketiga, kumpulkan jenis-jenis batuan yang ada di halaman. Satu,……. .”

Tiap hari selalu saja begini. Sepatu dan sandal berserak tak rapi. Ada yang masih sepasang, ada pula yang tinggal sendirian. Padahal kan rak sudah disediakan?
Ini bukan sekedar mereka, yang sepatunya berserakan itu, adalah anak-anak. Ini merupakan cermin dari budaya. Budaya tak peduli, budaya sak enak udhele dhewe. Kalau aku mau begini, emang kamu mau apa?!
Dalam skala lebih makro, budaya berserakan ini dapat kita jumpai dimana-mana. Semua serba bergerak tak teratur.Lihat saja di jalan raya. Ketidakteraturan sudah menjadi sesuatu yang teratur. Mengapa? Karena semua sistem di jalan raya, baik pengguna, aparat, dan perangkat, berjalan sesuai dengan keinginan sendiri. Berjalan mengikuti ego. Berjalan menatap lurus ke depan, tak peduli samping kini-kanan.
Lah, kalo sudah begitu yang terjadi tentu saja pelanggaran. Si pelanggar bisa saja kepergok sama penegak hukum. Hebatnya, entah si pelanggar yang cari teman agar tak atau penegak hukum yang begitu baik sehingga mau bersama-sama menjadi pelanggar. Benang kusut ini terus saja bergulir, menjadi bola yang semakin lama kian membesar dan terlalu capek untuk diurai. Dan ini kemudian menjadi sistem baru yang struktural. Pelanggaran menjadi biasa, bahkan legal. Nah, kalau sudah begini ketidakteraturan menjadi sesuatu yang teratur bukan?
Udah, ah. Terlalu panjang banget kalu dibahas terus. Kembali ke sepatu yang berserakan. Itu, tuh di SIGM. Ga adil banget deh kalo semata menyalahkan anak. Bukankah mereka itu peniru yang ulung? Mereka melakukan sesuatu seperti apa yang mereka lihat. Siapa yang mereka lihat, tiru? Ya, kita-kita ini. Orang dewasa disekitar mereka.
Memang kita ini sangat hebat. Kita begitu menghargai waktu. Waktu adalah uang. Bahkan waktu adalah pedang! Ya, sehingga waktu sedetik pun begitu berharga. Bisa-bisa uang melayang, atau pedang akan mengakhiri hidup jika waktu terbuang. Jadi, buat apa cape-cape merapikan sepatu? Buang waktu saja, tidak efektif! Tidak bernilai ekonomis!
Tapi, bener gitu kita begitu menghargai waktu? Bukankah kita begitu fleksibel, sehingga soal waktupun bisa begitu elastis. Jam karet sudah jadi budaya. Institusi mana yang begitu peduli soal tepat waktu? Memang ada, tapi berapa banyak?
Lihat saat kinerja bangsa ini. Mana yang menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Memang semua menghabiskan waktu. Produktifkah? Jangan tanya dulu produktif apa ga. Waktu dilalui supaya jam kerja cepat habis, terus pulang. Begitu tiap hari, tiap bulan. Lalu gajian, begitu lagi sampai gajian berikutnya. Mau gapleh, ngobrol, main catur, ato makan siangnya di sebuah kafe di suatu mall, dengan belanja tentu saja, ngga pa-pa. Yang penting gaji tetap dibayar. Betul?
Nah, kalo gitu apakah namanya ini bukan musang berbulu domba, atau kita memang bermuka dua? Terlalu munafik kalo merapikan sepatu kita hubungkan dengan menghemat waktu. Berapa lama sih menyusun sepatu supaya rapi?
Dari sisi lain, kita ini sudah begitu terbiasa menghargai sesuatu yang berada di atas, kita begitu hormat. Sebaliknya, yang dibawah kita hampir, bahkan tidak peduli. Nah sepatu kan tempatnya dibawah. Yang namanya di bawah di negeri ini ga pernah dapat tempat. Selalu dipinggirkan dan terusir. Diinjak-injak dan ga perlu banget untuk dipedulikan. Lebih menyedihkan lagi selalu dianggap pengganggu keindahan.
Begitu juga sepatu-sepatu malang. Mereka ga dipedulikan. Dibiarkan berserakan. Dinjak-injak orang lain, selalu digusur, bahkan saling terpisah. Berserakan, kotor karena terinjak, sepatupun dianggap perusak keindahan. Betapa tak adilnya kita ini.
Jadi menurut saya sepatu yang berserakan itu bukan hal yang sepele. Ada pembelajaran yang begitu hebat. Yuk, kita bayangkan memperbaiki negeri ini dengan langkah awal memperlakukan sepatu secara lebih smooth dan smart. Bukan hanya masalah kerapihan dan keindahan. Ini bisa menjadi terapi bagi kita untuk peduli pada hal-hal kecil, masalah kecil, orang-orang kecil. Kita bisa belajar menghargai orang lain, membiasakan diri menjadi teratur. Menghilangkan budaya saling menggusur dan tak peduli.
Kembali ke sepatu yang berserakan di SIGM. Sebagai model yang selalu ditiru, kitalah yang mempelopori untuk menyusun sepatu. Disiplin tentu saja kunci suksesnya. Jangan berharap ada perbaikan kalo kita sendiri tidak berusaha untuk berubah. Jangan malah kita ikutan-ikutan naruh sepatu dimana saja, dengan alasan ya udah begitu, mau apalagi? Kalau memang seperti itu, benar sekali mau apalagi? Jangan pernah bermimpi memperbaiki negeri ini.

Kalimat ini sangat saya gemari. Saya mendapatkan kekuatan setiap kali saya membaca atau mengucapkannya. Kekuatan magis yang mampu memberi energi untuk selalu semangat pergi ke sekolah.
Saya selalu membayangkan bahwa belajar itu tidak kaku. Mengajar tidaklah seperti melaksanakan peraturan atau undang-undang, juga bukan sebuah rencana mutlak, sangat tergantung pada situasi yang dihadapi. Bisa jadi rencana tinggal rencana. Ya nggak apa-apa.
Lalu, apakah kita tak perlu mempersiapkan rencana pembelajaran? Tidak juga. Rencana pembelajaran harus dibuat, meski bukan berarti harus ditulis dalam format-format tertentu.
Menurut saya, tugas seorang guru yang lebih penting adalah membuat rencana pembelajaran yang asyik, yang membuat anak ketagihan. Ini tentu saja memerlukan energi dan waktu yang cukup untuk mempersiapkannya.
Rencana yang dibuat bukanlah tak boleh berubah. Belajar tak hanya aktivitas fisik, juga terlibat mental di dalamnya. Emosi sangat berpengaruh dalam belajar. Oleh karena itu seorang guru harus mempunyai kejelian dalam melihat keadaan emosi murid-muridnya. Apa yang sedang mereka rasakan, apa bahan pembicaraan mereka, permainan yang sedang digemari, dan hal lainnya.
Maka ketika rencana yang kita buat tak selaras dengan keadaan anak, saat itu juga harus diubah. Diubah bisa berarti diganti secara ekstrem, bisa juga diadaptasi, tergantung situasi.
Dengan demikian, seorang Guru harus bersiap diri akan segala kemungkinan. Boleh jadi, yang semula direncanakan membuat anak merasa asyik, malahan nggak rame atau bahkan ditolak siswa. Dalam hal seperti ini tidak pada tempatnya Guru memaksakan siswa mengikuti apa yang sudah direncanakan. Kalau anak ajukan keberatan atau usul, jangan langsung dipatahkan. Justru keberanian menyampaikan perasaan dan menawarkan solusi seperti ini harus dikembangkan.
Atau ternyata guru mendeteksi sebuah kegiatan mengasyikkan yang dilakukan anak-anak saat istirahat, maka bisa saja rencana pembelajaran saat itu juga berubah. Secara materi tidak ada yang berubah, namun setting kegiatan yang disesuaikan. Dalam arti yang lebih luas dapat dikatakan bahwa semua aktivitas adalah belajar. Belajar tidak dibatasi ruang dan waktu. Ini barangkali yang dimaksud dengan mengalir.
Air akan mengalir baik kalau ada saluran. Saluran belajar terbuka saat anak ’memberi ijin’ Guru mengajar. Maka dapatkanlah ijin itu — kalau tidak apa yang kita ajarkan akan meluap ke luar saluran.
Air akan mengalir lancar kalau sedikit penghalangnya — maka buanglah sebanyak mungkin apapun yang menghalangi proses belajar. Rasa takut, malu, cemas, dan perasaan negatif lainnya jangan ada dalam belajar. Tugas Guru meminimalkan penghalang, kalau mungkin menghilangkannya.
Mengalir juga berarti cair. Cair dalam hubungan antara individu, cair dalam materi. Maksudnya, materi bisa berkembang atau dipelajari lebih dalam. Ini tentu saja memerlukan fleksibilitas. Berarti belajar tidak selalu ceramah atau mengerjakan latihan. Belajar tidak harus di kelas. Belajar bukan hanya membaca atau menulis. Belajar itu banyak kegiatannya. Dan karenanya, belajar selalu berkembang.
Belajar merupakan sebuah usaha. Usaha membangun pengetahuan. Namanya juga usaha, kadang sukses kadang harus mengulang. Artinya, ada resiko gagal. Kegagalan yang dimaksud bukan hasil akhirnya gagal, tapi gagal dalam prosesnya sehingga perlu pengulangan.
Mempelajari sesuatu yang baru kadang menimbulkan ketegangan. Anak ragu, atau bahkan takut memasuki sesuatu yang baru. Perlu usaha agar ketegangan anak tak berlangsung lama. Saat mempelajari sesuatu yang baru upayakan anak merasa aman dan nyaman, tidak takut ‘diketawai’ atau dimarahi. Tidak takut mencoba, dan terus mencoba. Punya kegigihan, tidak kenal putus asa. TG

Suhud Rois
Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin,
Kab. Bandung Barat, Jabar

*) Tulisan ini diterbitkan pada Teachers Guide Edisi No. 09 Vol III/2009. Dapatkan hard copy di toko-toko Gramedia dan Gunung Agung sekitar Anda. Atau hubungi bagian berlangganan Hp/SMS ke 021 68458569

Berpusat Pada Anak

Belajar adalah proses menjadikan anak menjadi tahu, mengerti, memahami dan menginternalisasi pengetahuan. Dalam hal ini tentu saja anak merupakan subjek sekaligus pusat kegiatan belajar.
Sebagai pusat pembelajaran, kebutuhan anak harus terpenuhi. Anak perlu merasa aman, nyaman, berharga, dicintai, dan dipahami. Ini adalah kebutuhan primer, tidak bisa dihilangkan. Perasaan aman, nyaman, berharga, dicintai, dan dipahami akan mendorong munculnya motivasi dan kesadaran anak untuk belajar.
Setelah tumbuh motivasi belajarnya, anak perlu hal yang menyenangkan dalam belajar. Apa yang dekat dan dikenal baik oleh anak merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. Oleh sebab itu, pembelajaran dikejar ke arah yang kontekstual. Sesuatu yang akan mudah dipahami anak karena anak sudah mendapatkan pengalamaan dalam bentuk lain yang berhubungan dengan materi yang dibelajarkan.
Apakah ini berarti pembelajaran sudah berpusat pada anak? Belum! Berpusat pada anak berarti pembelajaran dan semua yang menyertainya disesuaikan dengan kebutuhan, gaya dan cara belajar, kemampuan, serta kondisi mental, psikologis, dan sosial anak. Artinya guru perlu mengenali benar anak didiknya. Mengetahui hobi, makanan kesukaan dan “hal-hal kecil” lainnya mutlak diperlukan.
Selanjutnya guru mempersiapkan skenario pembelajaran dimana setiap anak mempunyai kesempatan berkembang secara optimal dengan semua latar belakang yang dimilikinya. Derajat keberagaman metode dan pendekatan pembelajaran berbanding lurus dengan tingkat kemajemukan yang ada dalam kelas.
Prinsip pembelajaran yang berpusat pada anak lainnya adalah menjadikan anak sebagai subjek pembelajaran. Sebagai subjek, anaklah yang aktif membangun pengetahuannya. Jika ternyata guru masih dominan dalam proses pembelajaran, maka ia sudah mengambil hak anak untuk memberdayakan dirinya.
Makna lainnya adalah apa yang dibelajarkan berangkat dari kebutuhan anak, cara mengajarkannya sesuai dengan kondisi anak, dan pendekatan yang dipakai berdasarkan dunia anak.
Kebutuhan tiap anak sangat beragam. Dari segi kemampuan, ada yang perlu pengayaan, ada juga yang perlu pengulangan. Perlakuan pun berbeda. Memotivasi tidak akan sama caranya bagi setiap anak. Termasuk didalamnya cara berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan cara melakukan pendekatan.
Pembelajaran yang berpusat pada anak membuat anak memahami pentingnya materi yang dipelajari. Membantu mereka mengidentifikasi manfaatnya bagi diri sendiri untuk kemudian dipancarkan bagi kemanfaatan manusia.
Hal ini mensyaratkan adanya proses pemaknaan materi, bukan sekedar menguasainya saja. Pemaknaan akan terjadi bila anak mengetahui manfaat bagi dirinya. Disinilah muncul keragaman. Anak bisa mengidentifikasi manfaat yang berbeda dari temannya. Nah, saat itulah guru mempunyai peran menguatkannya sehingga anak memperoleh pelecut semangat sekaligus melakukan aktivitas belajar dengan kesadaran diri.
Sedangkan dari sisi materi, pembelajaran yang berpusat pada anak memilih materi yang dekat dengan anak. Materi selalu dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dirasakan. Materi yang bersifat abstrak sebisa mungkin dibawa dalam bentuk yang konkret.
Pembelajaran yang berpusat pada anak mensyaratkan keterlibatan anak. Pembelajaran diorientasikan pada pengalaman secara langsung, hingga pada akhirnya anak bisa menemukan hubungan antara materi dengan situasi kehidupan nyata. Tidak hanya berhenti di pemahaman, dalam pembelajaran yang berpusat pada anak seorang anak mendapatkan bimbingan agar mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan.

SEKOLAH SENDAL JEPIT

Sendal jepit, biasanya sih dipakai di kamar mandi. Lalu bagaimana kalau ada sekolah sendal jepit? Tentu saja bukan maksudnya ada sendal jepit yang sekolah.
Sekolah ini sebenarnya sama saja dengan sekolah yang lainnya. Ada bangunan gedungnya, ada ruang kelas dengan meja-kursi dan whiteboard-nya, ada guru-guru yang semuanya sarjana, dan ada hal-hal lain sewajarnya sekolah. Sekali lagi, sekolah ini sama dengan sekolah lainnya.
Tapi tidak semuanya sama, kok. “Dari TK mana, Dik?” pertanyaan ini sering terdengar ketika anak-anak dari sekolah ini sedang mengadakan perjalanan keluar. Bukan karena tubuh yang mungil, tapi bajunya yang tak seragam membuat orang langsung mengambil kesimpulan bahwa ini adalah rombongan TK, padahal mereka anak SD.
Tidak berseragam, sekolah macam apa? Ya, sekolah semacam ini, Sekolah Sendal Jepit. Bisa saja seragam dianggap sebagai identitas, tapi bukankah tidak berseragam juga menunjukkan identitas? Seragam sekolah hanya menunjukkan identitas sekolah, sedangkan pergi ke sekolah dengan tidak berseragam menunjukkan identitas pribadi.
Dengan berseragam bisa saja tidak terlalu kentara strata sosialnya, sehingga mungkin ada kesetaraan. Meskipun juga terlihat ada yang baju seragamnya halus dan harum, ada pula yang kucel dan kusam karena selama seminggu dipakai ke sekolah.
Sedangkan di Sekolah Sendal Jepit yang tak berseragam ini, anak-anak setiap hari bisa memilih baju yang ia pakai. Hebatnya lagi, ternyata tidak ada yang berlomba-lomba mengenakan baju paling bagus. Tidak ada persaingan baju mahal. Ternyata dalam ketidak seragaman terjadi kesetaraan.
Ini baru tampilan luarnya, baru bajunya saja. By the way, disebut Sekolah Sendal Jepit karena memang banyak sandal jepit di sekolah ini. Alas kaki tidak dipakai saat masuk ruangan, jadi yang praktis , ya menyimpan sandal jepit di sekolah. Yang lebih heboh lagi, beberapa anak memakai sendal jepit dari rumah. Artinya mereka memang bersendal jepit pergi dan pulang sekolah. Lho, kok?
Bisa saja hal tersebut dipandang kurang pantas, tapi justru dihargai di sekolah ini. Walah. Ketika memutuskan memakai sandal jepit tentu anak sudah punya pertimbangan. Dan ini bukan hal yang mudah. Memakai sandal jepit ke sekolah itu tidak lumrah, bertentangan dengan kebiasaan. Kalau tidak kuat mental tentu tidak akan berhasil melakukannya. Ini yang dihargai, keputusan anak dan keberaniannya. Masalah lainnya bisa diselesaikan sering perjalanan waktu.
Dari sisi pembahasan yang lebih kontemplatif, Sekolah Sendal Jepit hanya ibarat saja. Sendal jepit itu praktis, tidak ribet memakainya. Begitu juga sekolah, harusnya tidak membuang-buang waktu dengan urusan yang rumit. Belajar dengan tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak menambah keterampilan dan mengembangkan potensi. Sekolah seharusnya membuat anak mampu belajar, bukan mengajari anak. Praktis.
Sendal jepit dipakai oleh semua lapisan. Inklusif. Sekolah melayani anak dari berbagai latar belakang sosial, budaya, bakat, dan potensi. Sendal jepit biasa dibawa kemana pun. Ia menjelajahi banyak hal dan tempat. Sekolah menyediakan kegiatan yang eksploratif. Anak melakukan banyak hal dan mendapat banyak pengalaman.
Pernahkah Anda melihat sendal jepit, tepatnya bekas sendal jepit, dipakai mainan? Jadi roda mobil-mobilan, misalnya. Atau dijadikan rem oleh tukang becak? Mungkin juga dijadikan pengganjal. Yang jelas, ketika rusak pun, sendal jepit masih bisa dimanfaatkan. Begitu pun belajar. Seharusnya tidak ada yang terbuang sia-sia. Materinya memang dibutuhkan anak, proses belajarnya memberdayakan, metode yang dipakai membuat anak semakin terampil dan menguasai banyak kemampuan.
Bukanlah belajar kalau ternyata memperdaya anak. Akan terbuang sia-sia jika materinya jauh dari yang dibutuhkan anak. Tidak berguna bila metode yang dipakai adalah cara-cara praktis, konsep ditinggalkan. Tanyalah diri kita sendiri, berapa persen pengetahuan yang kita pelajari di sekolah yang masih kita gunakan sampai sekarang? Untunglah ada sekolah Sendal Jepit. Tidak ada yang terbuang, apapun kondisinya tetap bermanfaat.

PERSIAPAN MENGAJAR

Mengajar adalah melayani. Sebuah pelayanan yang baik tentu saja membutuhkan persiapan yang matang. Apa yang dipersiapkan? Materi dan kegiatan tentu saja menjadi komponen utamanya. Yang lainnya adalah kondisi fisik dan emosi. Dua hal ini sangat penting untuk diperhatikan.

a. Materi
Ada dua sudut pandang terhadap materi pembelajaran. Yang pertama sebagai sebuah tujuan. ini berhubungan dengan penguasaan konten materi. Yang kedua, materi pembelajaran merupakan sarana untuk mengembangkan softskills dan keterampilan belajar (how to learn). Softskills dan keterampilan belajar dikembangkan dalam proses penguasaan materi.
Dua sudut pandang ini akan mempengaruhi pemilihan kegiatan pembelajaran. Belajar bukan sekedar menguasai materi tetapi juga mengembangkan berbagai kemampuan. Kemampuan-kemampuan tersebut, softskills dan keterampilan belajar, merupakan keterampilan dasar yang bersifat umum dan aplikatif.
Beberapa hal yang diperhatikan dalam pemilihan materi:
ä Kesesuaian dengan kebutuhan anak
ä Kesesuaian dengan tahap perkembangan anak
ä Kesesuaian dengan kondisi alam dan sosial
ä Alokasi waktu yang dibutuhkan
ä Urutan pemberian materi
ä Pemilahan antara materi yang sangat penting, penting, dan kurang penting
ä Tema pembelajaran, untuk yang bersifat tematis
Materi utama berdasarkan kurikulum nasional yang berlaku. Materi tersebut bersifat cair, tidak terpaku pada apa yang tercantum dalam kurikulum. Materi dikembangkan secara mendalam dan juga melebar.
Materi bisa dilebarkan secara integral dengan materi yang lain, bisa juga memperkaya anak dengan membuatnya lebih dalam. Tekniknya bisa dengan membuat kegiatan yang melibatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kegiatan yang dimaksud diantaranya aplikasi, analisa, sintesa, dan evaluasi.
Aplikasi dapat diartikan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan dalam keadaan yang berbeda, misalnya menggabungkan dua fakta atau lebih menjadi sebuah hal baru. Contoh kegiatannya antara lain membuat diorama atau surat.
Analisis merupakan kemampuan memisahkan sebuah atau beberapa fakta dari fakta yang lebih besar. Misalnya membuat teka-teki silang dan grafik.
Sintetis adalah kebalikan dari analisis. Dalam sintesis dituntut kemampuan untuk menggabungkan beberapa fakta sehingga menghasilkan hal yang baru. Contohnya membuat desain rumah ramah lingkungan.
Tahap tertinggi, evaluasi, merupakan kemampuan untuk menilai, menimbang, dan memberikan putusan. Misalnya memberikan masukan kepada pemerintah daerah tentang cara mengatasi banjir.
Ketika akan masuk kelas, guru sudah mempunyai materi ajar dan bagaimana cara mengajarkannya. Bahkan jauh sebelumnya, sudah ada rencana penyampaian materi untuk satu tahun ajaran.
Bahan dan sumber belajar juga harus dipastikan siap untuk digunakan. Menjadi sebuah prosedur pribadi untuk memastikan rencana pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

b. Ketahanan Fisik dan Emosi
Kegiatan belajar dengan banyak aktivitas dan semua implikasi yang mengikutinya, membutuhkan stamina tubuh yang prima. Ada tuntutan untuk selalu tampil all out, menampilkan sikap tubuh yang penuh optimisme dan ceria. Rasa lelah dan loyo tidak semestinya ditunjukkan kepada anak, apalagi secara verbal. Jadi, sebelum masuk kelas, pastikan bahwa kondisi tubuh memang layak mengajar.
Bukan hanya tampilan fisik, kondisi psikologis dan emosipun mempengaruhi kinerja. Ketika di kelas, total energi fokus pada anak. Masalah yang ada sedapat mungkin dilupakan terlebih dahulu, apapun masalahnya. Siapkan pula untuk menghadapi semua kondisi yang bisa jadi tidak terduga. Bersifatlah fleksibel.

MENGAJARKAN KREATIVITAS

Pertanyaan yang mendahuluinya adalah perlukah kreativitas diajarkan? Kalau perlu, apakah sekolah yang mengajarkan kreativitas kepada anak-anak? Bila jawaban atas pertanyaan tersebut adalah “Ya”, apakah kreativitas diajarkan sebagai bagian dari materi tiap bidang studi atau sebagai subjek yang terpisah? Bagaimana cara mengajarkannya?
Sebaiknya kita mulai dengan menyamakan pandangan tentang makna kreativitas. Apakah kreativitas hanya identik dengan seni?
Banyak definisi tentang kreativitas. Banyak pula yang berpandangan bahwa kreatifitas adalah kemampuan membuat sesuatu yang hasilnya sangat bagus. Pandangan ini menurut saya tidak sepenuhnya salah. Tapi juga belum sepenuhnya benar. Kreativitas tidak terbatas pada kemampuan memproduk sebuah benda atau barang, tetapi juga pada ide, cara pandang, dan pemecahan masalah. Kreativitas merupakan kemampuan dalam mempersepsi atau melakukan sesuatu dan memecahkan masalah dengan cara baru yang tidak biasa.
Kemajuan dalam berbagai bidang seperti yang terjadi sekarang dipandang sebagian orang membunuh atau menghambat potensi kreatif seseorang. Anak dengan mudah mendapatkan mainan, tidak perlu membuatnya sendiri seperti jaman dulu. Teknologi yang semakin mudah dipakai dan dan multi guna serta mampu mengakses berbagai hal membuat orang malas berpikir.
Benarkah hal tersebut mengakibatkan daya kreatif akan berkurang? Perkembangan teknologi membuat orang lebih mudah dalam menjalankan aktivitasnya, karena banyak peralatan yang bisa membantu. Dengan demikian orangpun punya waktu untuk mengerjakan hal lainnnya atau waktu luang yang lebih banyak. Waktu luang yang ada jika hanya dipakai untuk kegiatan yang bersifat pasif, misalnya habis untuk menikmati hiburan, bisa jadi kemajuan jaman membuat orang tergerus daya kreatifnya.
Dilain pihak, bila teknologi dipakai untuk menjawab tantangan jaman maka sebenarnya tidak ada potensi kreatif yang hilang. Terlebih kreativitas bukan hanya terbatas pada produk berupa barang, tetapi juga ide, gagasan, dan pemikiran. Kalau cara berpikir kita seperti ini, maka semakin maju semakin besar tuntutan untuk mampu berpikir kreatif. Karena pada dasarnya tantangan kehidupan tidak semakin berkurang, tetapi bertambah demikian banyak dan kompleks.
Nah, apa yang bisa kita lakukan? Kebutuhan akan daya kreatif yang demikian besar, mau tidak mau membawa kita kepada pemikiran bahwa kita perlu mempersiapkan generasi yang mampu mengembangkan kreativitasnya. Mengapa demikian? Karena kreativitas merupakan sebuah potensi, tidak akan keluar dan menjadi manifestasi jikalau tidak ada usaha untuk menumbuhkannya. Artinya kreativitas perlu lahan dan suplemen agar tumbuh dan berkembang dengan baik.
Sekolah tentu saja tak lepas daru tanggung jawab menyediakan lahan dan suplemen tersebut. Bahkan posisi sekolah cukup strategis, mengingat sebagian besar waktu anak-anak dilalui di sekolah. Ujung-ujungnya pasti akan sampai di pembelajaran. Masalahnya, bagaimana membuat proses pembelajaran mampu mengasah kreativitas anak?
Ini juga sebagai hal pendorong dari sisi yang berbeda terhadap perlunya perubahan dalam sistem pembelajaran. Sudah waktunya kita tinggalkan pembelajaran yang hanya mengedepankan penguasaan materi. Pembelajaran yang bersifat dogmatis, tertutup. Pembelajaran yang hanya mengenal benar atau salah, tidak menutup kemungkinan baru atau hal yang lain. Praktek belajar yang bersifat pasif, searah.
Yang diperlukan sekarang adalah pembelajaran sejati. Disebut pembelajaran sejati karena sejatinya pembelajaran itu membelajarkan. Membelajarkan berarti menggerakkan potensi belajar. Menggerakkan tentu saja perlu daya, yaitu daya atau potensi berkembang dari anak-anak. Potensi, inilah yang harus kita cari dan gali dari anak-anak. Bukan menjejali mereka dengan ceramah tentang definisi, hukum, teori, rumus dan tetek bengek lainnya.
Potensi akan bangkit kalau menemukan stimulus yang menantang. Buatlah pembelajaran yang menantang, menarik, membuat berbagai kemungkinan, maka kreativitas anak akan menyala-nyala menerangi jalan menuju solusi yang lebih baik. Ada solusi, berarti ada pemecahan masalah. Ya, pembelajaran hendaknya memberikan masalah yang bisa membuat anak terpacu memberikan pemecahannya.
Kunci pembelajaran yang mengasah kreativitas adalah keterbukaan terhadap segala kemungkinan, keterbukaan terhadap hal-hal baru, dan menghargai setiap pemikiran. Paradigmanya adalah tidak ada pemikiran yang aneh atau konyol, semuanya mungkin saja. Dengan demikian, berikanlah masalah yang bersifat terbuka, pertanyaan yang bisa dijawab dengan berbagai kemungkinan. Bukan hanya benar atau salah semata.
Kunci sukses lainnya dalam memacu kreativitas adalah banyak humor. Suasana santai sering menumbuhkan solusi aneh untuk memecahkan suatu problem.

Awan Tag